Minggu, 24 Mei 2009

PEMBAGIAN PERENCANAAN

Perencanaan adalah suatu proses berkesinambungan yang mencakup keputusan-keputusan atau pilihan pelbagai alternatif penggunaan sumber untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu pada masa yang akan datang.

Perencanaan dapat dibedakan berdasarkan waktu, sifat, sektor, luas jangkauan, wewenang pembuatnya dan obyeknya.

1. Pembagian Perencanaan Berdasarkan Waktu

Berdasarkan kriteria waktu ada tiga macam perencanaan yaitu; perencanaan jangka panjang, perencanaan jangka menengah dan perencanaan jangka pendek. Dalam menyusun suatu rencana, perlu terlebih dahulu ditetapkan apakah yang akan disusun itu termasuk perencanaan jangka pendek atau lainnya, sehingga langkah-langkah kegiatan dapat tersusun dan tujuan kegiatan tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

a. Perencanaan Jangka Panjang

Perencanaan jangka panjang biasanya mempunyai jangka waktu 10, 20 atau 25 tahun. Karena demikian panjangnya siklus perencanaan ini, maka perencanaan jangka panjang memuat rencana-rencana yang bersifat umum, global dan belum terperinci.

Perencanaan jangka panjang bersifat perspektif, yaitu memberikan arah yang jelas bagi perencanaan yang berjangka waktu lebih pendek. Perencanaan jangka panjang masih perlu dijabarkan lagi menjadi perencanaan jangka menengah dan seterusnya dijabarkan menjadi perencanaan jangka pendek.

Perencanaan jangka panjang menetapkan sasaran misalnya sampai 20 tahun yang akan datang dan menetapkan harapan-harapan yang akan dicapai pada tahun tersebut serta mengemukakan langkah kebijaksanaan secara umum untuk mencapai sasaran tadi. Sebagai contoh misalnya, “Pendidikan di Indonesia Pada Tahun 2020”. Digambarkan misalnya perkiraan jumlah murid setiap jenjang pendidikan pada tahun 2020, demikian juga tentang kualitas lulusan pada tahun tersebut, kemudian disarankan langkah kebijaksanaan yang akan ditempuh untuk mencapai sasaran tadi, baik yang menyangkut pengadaan fisik, perangkat lunaknya seperti kurikulum, pengelolaan pengawasan dan penelitian serta pengembangannya.

b. Perencanaan Jangka Menengah

Perencanaan jangka menengah biasanya mempunyai 4 sampai dengan 7 tahun. Perencanaan jangka menengah disusun berdasarkan perencanaan jangka panjang yang selanjutnya perlu dijabarkan lagi menjadi perencanaan jangka pendek. Repelita termasuk jenis perencanaan jangka menengah yang kemudian dijabarkan ke dalam perencanaan tahunan yaitu perencanaan jangka pendek yang bersifat operasional.

Perancanaan jangka menengah seperti repelita adalah yang paling efisien ditinjau dari segi pelaksanaannya. Di dalamnya dicantumkan tujuan dan target secara lebih jelas sehingga memberikan dasar-dasar yang pasti bagi kegiatan yang direncanakan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan banyak memilih perencanaan jangka menengah dengan sistem berkelanjutan. Dalam pendekatan seperti ini, rencana tersebut diperpanjang satu tahun pada suatu waktu sambil memperbaiki sasaran-sasaran berdasarkan pengalaman pelaksanaan. Artinya, prestasi yang dicapai pada pelaksanaan yang lalu dijadikan umpan balik bagi perbaikan rencana yang selanjutnya.

c. Perencanaan Jangka Pendek

Perencanaan jangka pendek biasanya mempunyai jangka waktu kurang dari 4 tahun. Salah satu perencanaan jangka pendek yang sering kita temui adalah perencanaan tahunan. Perencanaan tahunan atau disebut juga perencanaan operasional di Negara kita ini pada prakteknya merupakan suatu siklus yang selalu berulang setiap tahun yaitu mulai dari awal April sampai dengan akhir bulan Maret.

Dewasa ini di Indonesia kita kenal dua macam perencanaan tahunan yaitu perencanaan tahunan pembangunan yang dituangkan ke dalam Daftar Isian Proyek (DIP) dan perencanaan tahunan kegiatan rutin yang dituangkan dalam Daftar Isian Kegiatan (DIK). Kedua rencana ini saling melengkapi dalam arti bahwa anggaran pembangunan akan mendukung pelaksanaan kegiatan yang anggarannya dari biaya rutin belum mencukupi. Perencanaan tahunan di atas merupakan penahapan dari REPELITA dan diadaptasikan terhadap sumber pembiayaan yang tersedia.

Fungsi pembuatan dari ketiga rencana tersebut di tandai dengan:

1. Suatu usaha untuk menghasilkan pembangunan secara seimbang pada setiap aspek dalam sistem pendidikan dan juga keseimbangan antara sistem pendidikan dengan sistem lainnya di dalam masyarakat.

2. Korelasi usaha pendidikan dengan kebijaksanaan nasional pembangunan sosial dan ekonomi.

3. Ketentuan yang menjamin bahwa investasi dalam pendidikan memberikan keuntungan baik nagi masyarakat maupun individu.

2. Pembagian Perencanaan Berdasarkan Sifat

Ditinjau dari segi sifatnya maka perencanaan dapat dibedakan pada perencaaan kuantitatif dan perencanaan kualitatif.

Perencanaan dikatakan bersifat kuantitatif apabila target-target yang ingin dicapai ditetapkan secara tegas kuantitasnya. Misalnya: pada tahun 1986 repelita anak usia 7-12 tahun yang jumlahnya diperkirakan 25 juta dapat tertampung di Pendidikan Dasar. Sedangkan perencanaan kualitatif, sasarannya tidak dapat dikuantifikasikan. Misalnya, peningkatan mutu lulusan pendidikan kepada taraf tertentu.

Perencanaan bukan hanya merencanakan pertumbuhan pendidikan tapi juga perubahan atau pembaharuan pendidikan. Untuk itu, maka Perencanaan Pendidikan selalu dibarengi oleh penelitian uji coba dan evaluasi. Sehingga perencanaan harus melihat sistem pendidikan sebagai suatu organisasi yang hidup dan memiliki potensi yang bukan saja untuk tumbuh tapi juga untuk pembaharuan, penyempurnaan, serta penyesuaian arah terhadap situasi yang berubah. Perencanaan Pendidikan di Indonesia lebih banyak memperhatikan hal-hal yang kuantitatif dan kurang memperhatikan segi kualitatif.

Proses Perencanaan

Perencanaan sebagai suatu proses berlangsung sepanjang waktu dan berulang kembali membentuk suatu lingkaran. Langkah-langkah yang diikuti dalam proses ini pada umumnya adalah sama pada pelbagai unit dari pelbagai tingkatan.

Langkah I- Pengumpulan dan Pengolahan Data.

Kegiatan pokok dalam langkah ini meliputi kompilasi data pendidikan, pengorganisasian data supaya mudah untuk didiagnosis, menyusun indikator yang perlu, menghimpun hasil penelitian serta hasil evaluasi dan monitoring rencana dan program yang lalu.

Langkah 2-Analisis Dan Diagnosis

Pada tahap ini dilakukan analisis (membandingkan data yang sejenis) atas data dan informasi berikut indikator yang telah disusun.

Langkah3- Perumusan Kebijaksanaan

Dalam manajemen kita mengenal tiga kata penting yaitu keputusan, kebijaksanaan, dan strategi. Kebijaksanaan merupakan suatu pembatasan gerak tentang apa yang akan dijadikan keputusan oleh orang lain.

Langkah 4- Perkiraan Kebutuhan yang Akan Datang

Berdasarkan kebijaksanaan yang telah digariskan dan disahkan, perencana pendidikan harus menjabarkan ke dalam kebutuhan- kebutuhan.

Langkah 5- Penetapan Sasaran

Setelah diperkirakan segala kebutuhan maka perlu ditetapkan sasaran atau target baik kuantitatif maupun kualitatif. Perlu diusahakan supaya sedapat mungkin sasaran yang ditetapkan dapat dikuantifikasikan sehingga mudah untuk diukur.

Langkah 6- Penyusunan Alternatif Strategi Layak

Langkah-langkah yang telah dibicarakan tersebut di atas dalam kenyataanya tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya secara tegas. Selesai penetapan sasaran pada langkah kelima, perlu dilanjutkan dengan penyusunan atau pemilihan strategi yang layak untuk dilaksanakan. Strategi merupakan alternatif dari langkah-langkah yang akan diambil.

Langkah 7- Perumusan Rencana

Perumusan ini meliputi usaha merumuskan tujuan, kegiatan, dan sasaran yang akan dicapai dalam waktu tertentu, perkiraan biaya yang diperlukan, unsur pelaksanaan, serta jadwal kegiatannya.

Langkah 8- Penganggaran

Pada waktu menganalisis data untuk tujuan penyusunan rencana, para perencana pendidikan perlu juga mengetahui sumber dana untuk pembangunan pendidikan, sehingga dibutuhkan adanya penganggaran.

Langkah 9-Rincian Rencana

Rencana yang telah ditetapkan dan disetujui anggarannya itu belum bersifat operasional karena biasanya masih berupa uraian singkat, karena itu sebelum rencana tadi dapat dilaksanakan maka harus dirinci terlebih dahulu sehingga setiap satuan kegiatan menjadi jelas baik menganai sasaran, pelaksana, hasil yang diharapkan, waktu, sarana yang diperlukan, tahap pelaksanaan dan biaya.

Langkah 10- Pelaksanaan Rencana

Suatu rencana pendidikan dilaksanakan apabila masing-Masing proyek sudah disahkan untuk dilaksanakann

Langkah 11- Evaluasi Rencana Dan Pelaksanaan

Evaluasi rencana membantu kegiatan pengambilan keputusan yang bertujuan mengusahakan supaya pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan menyimpang dapat segera diadakan tindak korektif.

3. Pembagian Perencanaan Berdasarkan Sektor dan Regional

Perencanaan dapat dibagi juga menurut perencanaan sektoral dan perencanaan regional. Perencanaan Sektoral adalah perencanaan menurut sektor-sektor sosial, umpamanya sektor ekonomi, pendidikan, pertanian dan lainnya. Sedangkan perencanaan Regional adalah perencanaan yang berorientasi pada wilayah atau kepentingan wilayah. Perencanaan regional bersifat lintas sektoral artinya mempertimbangkan adanya keterpaduan antara pelbagai sektor pembangunan dalam suatu wilayah.

4. Pembagian Perencanaan Berdasarkan Luas Jangkauan

Pembagian ini dibedakan menjadi perencanan makro (atau disebut juga perencanaan institusional) dan perencanaan mikro. Perencanaan Makro adalah perencanaan yang bersifat menyeluruh, umum dan bersifat nasional. Contohnya perencanaan provinsi, kabupaten yang disebut perencanaan daerah yang bersifat makro. Perencanaan Mikro adalah perencanaan yang mempunyai lingkup yang terbatas, yaitu perencanaan suatu institusi, misal universitas atau sekolah. Perencanaan mikro ini lebih terinci karenanya menjadi lebih konkrit.

5. Pembagian Perencanaan Berdasarkan Wewenang Pembuatannya.

Perencanaan ini dibedakan dalam dua macam, yaitu perencanaan sentralisasi dan perencanaan desentralisasi. Perencanaan Sentralisasi adalah suatu sistem perencanaan di mana seluruh rencana baik rencana untuk pusat maupun untuk daerah disusun oleh pusat. Dalam perencanaan ini daerah tidak diberi wewenang untuk menyusun perencanaannya sendiri. Perencanaan Desentralisasi adalah kebalikan dari perencanaan sentralisasi di mana perencanaan daerah dibuat sendiri oleh daerah itu sendiri.

6. Pembagian Perencanaan Berdasarkan Obyek Yang Direncanakan

Perencanaan ini dibagi menjadi dua, yaitu perencanaan rutin dan perencanaan pembangunan. Perencanaan Rutin merupakan proses mempersiapkan kegiatan atau suatu kumpulam pekerjaan yang bersifat terus-menerus dalam rangka mencapai hasil akhir suatu program yang bersangkutan. Perencanaan rutin hanya berjangka satu tahun. Sedangkan perencanaan Pembangunan dapat menjangkau jangka panjang, sedang, dan pendek.

Perencanaan rutin berbeda dengan perencanaan pembangunan terutama dalam hal-hal berikut:

§ Kegiatan dalam perencanaan rutin merupakan pekerjaan yang bersifat terus menerus.

§ Kegiatan dalam perencanaan rutin tidak dibatasi hanya untuk waktu tertentu.

§ Proyek dibatasi dalam jangka waktu tertentu, apakah satu tahun, dua tahun, dan seterusnya.

7. Pembagian Perencanaan Berdasarkan Jenjang

Berdasarkan jenjang perencanaan dibedakan menjadi:

§ Perencanaan tingkat pusat

Unit perencanaan di pusat sesuai dengan SK Menteri Pendidikan dan kebudayaan No.0222/0/80 dan di sekretariat jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan terdapat biro perencanaan dan di Sekretariat Jenderal Unit-Unit Utama terdapat bagian perencanaan.

§ Perencanaan tingkat provinsi

Perencanaan pada tingkat pusat menggunakan sebagian besar bahan-bahan masukan perencanaan dari provinsi. Unit pusat sendiri tidak mungkin menyusun perencanaan tanpa adanya masukan yang dimaksud. Sehingga di tingkat propinsi pada Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan kebudayaan dibentuk bagian perencanaan yang akan menangani kegiatan perencanaan rutin dan pembangunan pendidikan dan kebudayaan di provinsi yang bersangkutan.

Secara rinci tugas bagian perencanaan adalah sebagai berikut:

a. Menyusun program kerja tahunan bagian

b. Mengumpulkan, mengadakan survey, mengolah dan menyajikan data yang menyangkut pendidikan dalam dan luar sekolah.

c. Mengurus kamar data mengenai pendidikan dalam dan luar sekolah.

d. Membukukan dan menggandakan data tahunan yang bersangkutan dan melakukan pelayanan data pada unit kerja yang memerlukan.

e. Menganalisis dan mengumpulkan informasi tentang keadaan pendidikan dalam dan luar sekolah.

f. Mengumpulkan rencana sektoral tahunan sekretariat, bagian perencanaan, dan bidang di lingkungan kantor wilayah.

g. Menyusun rencana tahunan pendidikan dan kebudayaan di lingkungan kantor wilayah.

h. Memonitor perkembangan pelaksanaan kegiatan rutin dan pembangunan.

§ Perencanaan tingkat kabupaten/ kotamadya

Unit perencanaan di kabupaten/ kotamadya yang di sebut sub bagian penyusunan rencana dan program mempunyai tugas mengumpulkan, mengolah dan menyajikan data, menyusun rencana dan program, serta memonitor perkembangan pelaksanaan rencana dan program.

Dalam penjelasan lain ada yang membagi perencanaan menurut:

Ø Menurut besaran atau magnitude, yang dibagi menjadi:

Perencanaan Makro, yakni perencanaan yang memiliki telaah nasional, yang menetapkan kebijakan yang akan ditempuh, tujuan yang ingin dicapai, dan cara yang dipakai dalam mencapai tujuan tersebut.

Perencanaan Meso, yakni kebijakan yang ditetapkan dalam perencanaan makro, kemudian dijabarkan lebih rinci ke dalam program dalam dimensi yang lebih kecil.

Perencanaan mikro, diartikan sebagai perencanaan tingkat institusional dan merupakan jabaran lebih spesifik dari perencanaan tingkat meso.

Ø Menurut telaahnya, dibagi menjadi:

Perencanaan Strategis, yaitu perencanaan yang berkaitan dengan penetapan tujuan, pengalokasian sumber dalam mencapai tujuan dan kebijakan yang dipakai sebagai pedoman.

Perencanaan Manajerial, yaitu perencanaan yang ditujukan untuk mengarahkan proses pelaksanaan agar tujuan dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Perencanaan Operasional, memusatkan perhatian pada apa yang akan dikerjakan pada tingkat pelaksnaan di lapangan dari rencana manajerial.

Rabu, 20 Mei 2009

MY CLASS

NIM KELAS TARBIYAH UNSSULA SEMARANG

ANGKATAN 2007/2008

152071046: A. Retno Ayu Lestari

152071047: Abdul Azis

152071048: Abdul Azis

152071049: Muhammad Mundir

152071050: Abdul Wahab

152071051: Adib Fauzi

152071052: Agus Mushonif

152071053: Ah Solihul Hadi

152071054-T: Aries Setiawan

152071055: Alfa Hidayah

152071056: Anis Kholisoh

152071057: Anita Lutfiyati

152071058: Areh Setiawati

152071059: Ayu Apriyani Merdekawati

152071060: Bella Bakti Septiarani

152071062: Endah Fitriyah

152071063: Eti Eta Susana

152071064: Farid Islahul Yusron

152071065: Faridatun Nasekhah

152071067: Fitriyah

152071068: Hasan Basri

152071069: Hasanuddin

152071070: Ibnu Mufti

152071071: In’am Muamar

152071072: Indah Permatasari

152071073: Jauharotun Nafisah

152071074: Kholilur Rohman

152071075: Layyinatusy Syifa

152071076: M Arif Ubaidillah

152071077: Mahfudh

152071078: Mahfudori

152071079: Malikah

152071080: Mariyah

152071081: Masyhudi

152071082-T: M. Ridlotul Sukron

152071083: Misbah Hasan Sirait

152071084: Misbakhul Khoir

152071085: Mohammad Masruri

152071086: Muchammad Tohir

152071087: Muhajirin

152071088: Muhamad Charisudin

152071089: Muhamad Sirojudin

152071090: Muhammad Heriyudanta

152071091: Muhammad Amrullah

152071093: Muhammad Malik

152071094: Muhammad Sya'roni

152071095: Mukoddimah

152071096: Mustaghfirin Asror

152071097: Nilal Muna

152071098: Ning Zuama Zumadil Inayyah

152071099: Niswatun Khasanah

152071100: Nofik Maodah Asni

152071101: Novia Wastiani

152071102: Nurul Janah

152071103: Rahmat Mujiono

152071104: Rifqi Maulana

152071105: Rohmat Munthoha

152071107: Roihanatus Saidah

152071108: Roisatul Khusna

152071109: Saefudin

152071110: Saefurohcman

152071111: Sa'datur Rofiqoh

152071112: Septi Nur Laeliyah

152071113: Siti Ana Roifah

152071114: Siti Khuzaemah

152071115: Siti Nur Arofah

152071116: Siti Nur Kholifah

152071117: Siti Sulistyawati

152071118: Slamet Edi

152071119: Sri Puji Astuti

152071120: Sudarto

152071121: Suparman

152071122: Tutik Hirzizah

152071123: Ummi Banin

152071124: Wardatun Nikmah

152071125: Winarti

152071127: Zaenab Aqilah

152071132-T: Muhammad Munir

METODE PEMBELAJARAN AL-QUR'AN

BAB I

PENDAHULUAN

Adanya segala sesuatu tentu ada tujuannya seperti halnya Allah S.W.T menciptakan segala sesuatu. Kaitannya dengan melaksanakan perintah-Nya dalam mencari ilmu maka perlu acara perencanaan yang diusung demi tercapainya tujuan belajar yakni terwujudnya perubahan yang lebih baik, baik perubahan pengetahuan, sikap dan atau keterampilan.

Kemudian, dalam pembelajaran Al-Qur’an –termasuk pembelajaran yang lain- perlu adanya metode tepat yang harus dipilih sebagai metode terpilih yang dengan metode itu dapat dengan mudah memberikan pemahaman kepada peserta didik dan tentunya diharapkan pula dengan penerapan metode itu dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman, kondusif, dan mendukung.

Pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba menyajikan uraian pembahasan tentang metode yang baik dalam pembelajaran Materi PAI yang penulis spesifikasikan untuk Metode Pembelajaran Al-Qur’an.


BAB II

PERMASALAHAN

  1. Ruang Lingkup Materi Al-Qur’an
  2. Macam-Macam Metodologi Pembelajaran
  3. Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Islam


BAB III

PEMBAHASAN

A. Ruang Lingkup Materi Al-Qur’an

Al-Qur’an sebgai pedoman umat Islam tentu sudah seharusnya dan selayaknya dijadikan pegangan yang kuat. Namun permasalahnnya tidaklah dapat dipungkiri bahwa masih banyak di kalangan Negara sebagai mayoritas muslim ini yang buta huruf Arab, lalu bagaimana bisa dijadikan pegangan jika membaca saja belum mampu. Melihat ini, maka sebenarnya ruang lingkup materi Al-Qur’an sangantlah luas, pembelajarannya harus sedini mungkin dilaksanakan demi mempersipkan generasi Insani Qur’ani.

Sedang dalam materinya, tentulah tidak jauh berbeda antara bahan yang harus diajarkan untuk balita, anak-anak, remaja, dan orang tua. Perbedaan muncul melihat siapa yang akan kita beri pelajaran sehinggga menuntut adanya hirarki atau tahapan-tahapan menurut kemampuan masing-masing peserta didik.

Materi pokok Al-Qur’an meliputi:

  1. Belajar membaca,
  2. Ilmu Tajwid,
  3. Bacaan Gharib.

Pada pokok belajar membaca, diajarkan materi-materi pengejaan huruf Hijaiyyah, penegenalan harokat, penulisan huruf sambung, waqaf dan tasydid.

Sedang ilmu tajwid, adalah ilmu yang merupakan induk hukum-hukum bacaan Al-Qur’an yang pembahsannya mencakup hukum nun sukun dan tanwin, hukum mim sukun, pembagian idzgham, qolqolah, hukum lam jalalah, hukum ra, hukum mad, hukum alif lam dan isyarah atau tanda waqaf.

Yang terakhir, bacaan gharib disebut juga bacaan yang sulit. Sulit karena terkesan aneh dan perlu pengetahuan yang lebih dalam. Gharib di sini ialah bacan gharib yang sulit yang perlu kita perhatikan atas bacaan yang menganut qori’ Imam Hafsh murid dari Imam ‘Asyim, qori’ dari Kufah.[1] Bacaan gharib di antaranya seperti Lafadz انا yang dibaca pendek, lafadz نا yang dibaca pendek apabila washal sedangkan waqaf dibaca panjang. Pada bagian bacaan gharib ini juga ada bacaan yang memang perlu diperhatikan olleh guru dalam mengajarakannya dikarenakan bentuk bacaan dan kalimatnya tidak seperti biasanya atau bentuk bacaan dan kalimatnya berbeda.seperti lafadz عليه yang biasanya dibaca Kasroh tapi di gharib dibaca Dhommah. Contoh lain bacaan gharib di antaranya nun iwadl, idzhar mutlaq, bacan tashil, naql, isymam saktah, dan imalah. Untuk pendukung materi Al-Qur’an, perlu juga dikenalkan makhraj (tempat keluar) huruf berikut sifat-sifatnya.

Sebagai penghormatan kepada Mu’jizat agung berupa kalamullah ini, maka pembelajaran Al-Qur’an juga melibatkan materi akhlaq dengan diberlakukannya tata cara membaca Al-Qur’an. Untuk selanjutnya, Al-Qur’an ketika minimal sudah memahami bacaannya sekaligus artinya, maka melibatkan pula akidah, fiqh, tarikh sebagai bentuk penghayatan dari ayat-ayat suci Al-Qur’an.

B. Macam-Macam Metodologi Pembelajaran

Keberagaman atau banyaknya metode dalam pembelajaran tentulah bukan untuk membuat kita bingung dalam memutuskan pemilihan. Sebaliknya, justru dengan semakin banyaknya metode yang diangkat oleh para pakar pendidikan akan dapat lebih memudahkan kita sebagai para pendidik dalam memilih metode tepat guna. Di depan, penulis akan sedikit menguraikan satu persatu metode tersebut dengan membatasi diri hanya pada metode yang penulis anggap tepat untuk pembelajaran Al-Qur’an yang diharapakan dari definisinya saja dapat dijadikan modal pegangan dalam pemilihan.

Adapun jumlah keseluruhan metodeologi pembelajaran ialah sebagai berikut:

  1. Metode Ceramah
  2. Metode Tanya jawab
  3. Metode Demonstrasi
  4. Metode Eksperimen
  5. Metode Diskusi
  6. Metode Sosio Drama Dan Bermain Peranan
  7. Metode Drill (Latihan)
  8. Metode Mengajar Beregu
  9. Metode Pemecahan Masalah
  10. Metode Pemberian Tugas Belajar Dan Resitasi
  11. Metode Kerja Kelompok
  12. Metode Imla’ (Dikte)
  13. Metode Simulasi
  14. Metode Studi Kemasyarakatan

  1. Metode Ceramah

Metode ceramah ialah menerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelas. Dengan arti lain bahwa ceramah atau lecturing itu adalah suatu cara penyajian atau penyampaian informasi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap terhadap peserta didiknya. Metode ini juga disebut metode pidato/ tabligh karena penyampaiannya dengan cara berpidato.

  1. Metode Tanya Jawab

Metode Tanya jawab ialah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan pertanyaan kepada peserta didik tentang pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang sudah mereka baca dengan sambil memperhatikan proses berfikir di antara peserta didik.

Dalam mengajukan pertanyaan, ada tiga macam pertanyaan dalam metode Tanya jawab ini. Pertama, pertanyaan awal pelajaran yang difungsikan merangsang peserta didik dengan pertanyaan pelajaran yang telah lalu. Kedua, pertanyaan di tengah-tengah proses pembelajaran yang dimaksudkan untuk mendiskusikan bagian-bagian pelajaran dan menarik sebagian fakta baru. Dan terakhir, pertanyaan akhir pelajaran yang digunakan untuk mengulang, menghubungkan bagian-bagian topik bahasan dan menarik kesimpulan pelajaran shingga peserta didik dapat memahami dengan mudah.

  1. Metode Demonstrasi

Istilah demonstrasi dalam pengajaran dipakai untuk untuk menggambarkan suatu cara yang pada umumnya menggunakan bahasa fisik atau pengoperasian suatu barang atau alat. Dalam tajwid, ini cocok digunakan untuk mengajarkan bacaan gharib. Dengan kata lain metode ini adalah metode agar peserta didik meniru pada yang dilakukan guru seperti halnya Rasulullah juga menggunakan metode ini dengan bukti haditsnya yang berbunyi: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”. (H.R. Bukhari).

  1. Metode Diskusi

Dalam pengertian umum, diskui ialah suatu proses yang melibatkan dua orang atau lebig dengan berhadapan langsung dengan tuikan menukar informasi (information sharing), mempertahankan pendapat (self maintenance) atau pemecahan masalah (problem solving).

Dalam pendidikan, metode diskusi adalah suatu cara penyampaian pelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada peserta didiki/ kelompok-kelompok untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan, atau menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah. Metode ini dipilih penulis melihat kompetensi dasar yang ada pada SLTA. Lihat lampiran Kompetensi Dasar.[2]

  1. Metode Drill (Latihan)

Metode Drill atau disbut Latihan Siap dimaksudkan untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan latihan terhadap apa yang dipelajari, karena hanya dengan malakukan secara praktis suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan disiap-siagakan.

  1. Metode Pemberian Tugas Belajar dan Resitasi

Pada metode ini penulis mencoba memberikan definisi secara detail dari istilah yang kita temukan, yakni apa itu tugas, belajar dan resitasi.

Tugas adalah suatu pekerjaan yang harus dilakukan, baik datangnya dari orang lain maupun dari dalam diri sendiri. Tugas ini biasanya bersifat edukatif dan bukan bersifat dan berunsur pekerjaan.

Menurut S. Nasution ada beberapa batasan istilah belajar. Pertama, belajar adalah perubahan dalam sistem urat saraf. Kedua, belajar adalah penambahan pengetahuan. Ketiga, belajar adalah perubahan perilaku berkat pengalaman dan pengertian.

Resitasi adalah penyajian kembali atau penimbulan kembali sesuatu yang sudah dimiliki, diketahui atau dipelajari.

  1. Metode Kerja Kelompok

Metode kerja kelompok adalah penyajian materi dengan cara pemberian tugas-tugas untuk mempelajari sesuatu kepada kelompok-kelompok belajar yang sudah ditentukan dalam rangka mencapai tujuan.[3]

Metode ini diambil penulis sebagai bagian dari saran mengingat Kompetensi Dasar pada kelas VI yang tidak mungkin dikerjakan sendiri, dan juga pada kelas X yang kemudian bisa juga dilanjutkan ke metode diskusi. Lihat lampiran.

  1. Metode Imla’ (Dikte)

Metode Imla’ atau dikte adalah suatucara menyajikan pelajaran dengan menyuruh peserta didik apa-apa yang dikatakan guru. Alat penyajian bahan yang digunakan guru dalam metode ini adalah bahasa lisan. Sedangkan alat peserta didik yang terutama dalam menyalin bahan pelajaran ialah berupa alat tulis dengan perhatian mendengarkan guru.

  1. Metode Simulasi

Wojowasito dalam kamusnya memberikan batasan tentang simulasi. Yaitu berasal dari kata “simulate” yang artinya pura-pura atau berbuat seolah-olah. Bak kata simulasi (simulation) diartikan tiruan atau perbuatan yang pura-pura saja. Seorang guru mensimulasikan sikap orang tua yang otoritas berarti guru itu menunjukkan pada peserta didiknya cara orang tua yang otoritas dalam menghadapi peserta didiknya dengan jalan berbuat seolah-olah sebagai orang tua yang otoriter.

Definisi yang lebih berorientasi pada praktek pelaksanaan ini memberikan gambaran atau simulasi itu dapat digunakan untuk melakukan proses-proses tingkah laku secara imitasi.

Metode ini penulis sarankan melihat Kompetensi Dasar untuk kelas X (sepuluh). Lihat lampiran.

C. Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Islam

Ramayulis dalam bukunya Metodologi Pendidikan Agama Islam mencantumkan secara gamblang tentang Kompetensi Dasar di setiap tingkatan pendidikan. Penulis cantumkan di bawah ini Kompetensi Dasar khusus untuk Materi Pembelajaran Al-Qur’an, dan sebagai pelengkap, penulis cantumkan pula lampiran Kompetensi Dasar untuk semua Materi PAI. Lihat lampiran.

Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Islam Untuk Sekolah Dasar (SD).

Kelas:

I. Mengenal huruf hijaiyyah

II. Mengenal surat-surat pendek dalam Al-Qur’an

III. Membaca Al-Qur’an dengan surat-surat pendek

IV. Membaca dan hafal surat-surat pendek

V. Membaca dan menulis ayat Al-Qur’an

VI. Membaca, menulis, mengartikan dan menghafal surat-surat pendek

Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Islam Untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

Kelas

VII. Mampu membaca Al-Qur’an dengan fasih, membaca dan mengartikan surat-surat pilihan dan memahami hukum bacaan Alif Lam Ma’rifat, Nun Sukun/Tanwin dan Mim Sukun

VIII. Mampu membaca Al-Qur’an dengan fasih dan mengetahui hukum bacaan Al-Qur’an

IX. Membaca Al-Qur’an dengan fasih dan mengartikan surat-surat pendek dan mengetahui hukum bacaan waqaf dan idgham.

Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Islam Untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

X. Mampu membaca Al-Qur’an dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang manusia dan peranannya sebagai makhluk serta dapat mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Membaca dan memahami ayat-ayat ibadah. Membaca dan memahami ayat-ayat demokrasi.

XI. Mampu membaca Al-Qur’an dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang kompetisi, ayat tentang solidaritas,, dan menyantuni kaum lemah, serta mampu membaca ayat tentang lingkungan.

XII. Mampu membaca Al-Qur’an dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang toleransi dan memahami ayat tentang etos kerja.


BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penghayatan dan pemikiran yang kami (penulis) curahkan dalam pembahasan Makalah untuk penetapan Metode dalam Pembelajaran Al-Qur’an, maka kami mencoba mendekati kebenaran dengan mengajukan sembilan metode dari empat belas metode yang ada. Enam metode yakni Ceramah, Tanya Jawab, Demonstrasi, Drill (latihan), Pemberian Tugas Belajar dan Resitasi Dan Imla’ kami ambil dengan mempertimbangkan cakupan tiga materi pokok Al-Qur’an. Dan tiga metode lainnya yakni diskusi, kerja kelompok dan simulasi kami mengikut sertakannya melihat Kompetensi Dasar yang ada pada kelas VI dan X yang memang membutuhkan tiga metode tersebut.

.

B. Kritik dan saran

Dengan penuh kesadaran dengan segala kekurangan dalam kata-kata, dalam penulisan, kaidah-kaidah dan lain sebagainya, kami memohon maaf kepada pembaca umumnya dan kami berharap besar untuk keikut-sertaannya dengan bentuk saran dan kritik yang membangun dalam rangka membimbing kami untuk mengenali cara penulisan seperti apa yang benar dan lain sebagainya. Semoga dengan partisipasi pembaca, kami bisa belajar dari kesalahan.


[1] Khoirul Anwar, dkk, Panduan Praktis Membaca Al-Qur’an, (Semarang, LKPI UNISSULA, 2008), h. 67.

[2] Yurmaini Maimudin, dkk. Metode Diskusi, Proyek P3G, Depdikbud, (Jakarta, 1980), h. 47.

[3] Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta, Kalam Mulia, 1990), h. 179.


Minggu, 17 Mei 2009

KANGEN VS RINDU

Pagi ini WC memberikan inspirasi tentang apa itu kangen dan rindu. Menurut pemahaman yang kudapatkan itu, KANGEN hanyalah sekedar keinginan mengulang kembali peristiwa yang lalu sedangkan RINDU tidak mesti seperti itu, karena RINDU biasanya lebih pada keinginan yang ingin di capai yang belum ada di masa lalu. Setuju ataupun tidak, silahkan pembaca kirim Comment, kita sharing.

Minggu, 10 Mei 2009

TAKKAN KEMBALI

Saat kau memutuskan untuk tinggalkanku sendiri

Sakit terasa yang harus kuterima

Separuh nafas ini keberikan hanya untukmu

Dan kau pergi tinggalkan semua mimpi

Tiranimupun harus pergi

Dan kau tak pernah akan kembali

Simpanlah semua rasa yang ada

Kenangan indah bersama

Cinta pernah bersemi di dalam hati kita berdua

Kini semuanyapun harus berakhir

Harus kurelakan yang terbaik untuk kita

Semoga kau temukan dari apa yang kau cari

Bawalah semua mimpi yang ada

Yang dulu pernah tercipta.

Jumat, 03 April 2009

MASIH UNTUKMU

Keberadaan kasih sayang selalu tetap seperti atap

Yang tahan panas dan hujan

Berkarat namun masih sekeras besi

Yang disayangkan adalah ketidakpastian

Untuk apa atap diciptakan

Dan untuk apa besi diadakan

Kesungguhan saat ini sesungguhnya kesungguhan malang

Yang belum mampu membangkitkan

Terlebih menggantikan

Merobek langit jua belum tentu temukan jawaban

Kasih sayang menjadi seperti kebodohan

KAU AKU-KU


Aku tertawa atas tawamu
Tanpa kuusahakan
Aku menangis atas tangismu
Tanpa kuusahakan
Apa yang aku alami
Tanpa kuusahakan
Apa yang aku rasakan
Tanpa kuusahakan
Guyuran kasih sayang untukmu
Tanpa kuusahakan
Itu tak kuusahakan
Hanya mengikuti petunjuk kecilku

Aku bukan lagi aku
Meski engkau tetap engkau
Itu tak kusalahkan
Demi rasa yang kurasa
Bukan rasa yang kau rasa